Solusi Hunian Tanpa Riba - Salah satu peserta seminar "Kembali Ke Titik Nol" di Bontang Kaltim 25 September lalu adalah mas Bambang Eko, salah satu karyawan senior di PT. Pupuk Kaltim. Lima tahun lagi akan pensiun, siapapun pasti gak mau pas pensiun masih meninggalkan utang.
Beliau sampai malam hari masih ikut di obrolan santai bareng kawan-kawan lain belum bisa bertanya pas acara seminar. Ternyata beliau tanggal 10 September sudah ikut acara MTR (Masyarakat Tanpa Riba) bareng ustadz Samsul Arifin di Balikpapan. Kebayang gimana puyengnya dalam dua minggu dihajar kiri kanan..
Ketika malam bertemu di parkiran usai acara, saya hanya menguatkan: "wis mas ikhlas lepassskan, gak usah ditahan-tahan, sedekah di depan. Janji ALLAH sedekah membuka kemudahan semua urusan.."
Tanggal 27 September pas di mobil saya tiba-tiba ditelpon mas Eko, suaranya bergetar penuh semangat!
"Alhamdulillaaah maaasss! Saya sudah bebass semua utaang! Rasanya ploooong!"
Kurang puas dilanjut dengan WA detailnya..
Semalam saya mendapatkan kisah lengkapnya di group KSW (Kampoeng SyaREA World) nya Ustadz Samsul Arifin. Saya posting disini yak.. biar jadi pemantik semangat bagi yang sedang berjuang lepas dari semua utang dan riba..
selamat membaca!
-------------------------
*Testimoni bebas RIBA*
Oleh: Bambang Eko (Bontang Kaltim)
Saya dengan istri punya utang riba, yang membuat hidup kami gelisah di malam hari dan Hina di siang hari dan kami melakukan itu semua.
Bersyukur sekali saya ketemu Pak Samsul Arifin saat di seminar Mengembangkan Harta Tanpa Riba tanggal 10 September 2016. Sudah lama kami memiliki utang ini, namun baru setahun lalu kami berazzam untuk membebaskan diri dan usaha kami dari jeratan utang Riba ini, juga komitmen tidak akan mengulanginya kembali.
Tapi ternyata untuk melepaskan hal itu tidak mudah. Kalau di masa lalu dalam usaha kami ada masalah keuangan (modal dll), maka tinggal top up pinjaman, masalah selesai dan timbul masalah baru lagi, terus dan terus saja begitu… kelihatannya aja keren.
Padahal itu kesenangan semu saja. Benar semua yang diutarakan oleh ust Samsul saat kegiatan seminar.
Yang saya ambil pelajaran dari setiap pertemuan dengan pak Samsul itu, yang membuat saya tergerak untuk berubah ke arah yang lebih baik adalah bagaimana melepaskan dari sifat kemelekatan terhadap dunia, harta dan sebagainya yang hanya kesenangan semu belaka, itu semua kuncinya.
Berbagai cara sudah kami lakukan untuk menjual asset saya, menawarkan ke berbagai pihak, berdoa memohon pertolongan Allah SWT juga seluruh rukun Islam sudah kami lakukan, namun ternyata gak gampang melaksanakan niat kami, menjual asset guna pelunasan utang RIBA tersebut.
Ada satu hal yang menurut saya keliru. Tatkala kita memohon sesuatu kepada Allah SWT, sedangkan diri kita sendiri gak ikhlas melakukannya, maka itu gak akan pernah tercapai/terkabulkan.
Jadi dalam diri saya dan istri saat berdoa kepada Allah SWT, meminta melunasi utang, terlintas perasaan sayang akan kehilangan harta benda yang selama ini kami peroleh dengan segala usaha dan keringat kami.
Bahkan waktu saya untuk istri dan anak saya terbuang hanya untuk mengejar pencapaian harta tersebut, namun sekarang harus dilepas begitu saja. Gak ikhlas sebenarnya hati ini melepasnya. Namun jika tidak dilakukan, masalah demi masalah semakin banyak yang datang.
Nah, yang saya tangkap dari penyampaian pak Samsul saat di acara tempo hari adalah, bahwasanya yang benar benar orang kafir adalah orang muslim yang sudah paham hukum/aturan agama tapi tetap tidak mau melaksanakannya. Orang Muslim sudah paham kalau RIBA itu diharamkan oleh Allah SWT, tapi tetap saja dilakukan, berarti kita sama aja dengan orang kafir tadi, tidak patuh pada aturan yang ditetapkan Allah SWT.
Ada lagi yang saya pahami, kalau Anda meninggal kelak masih memiliki utang di dunia, maka di akhirat kelak tidak akan masuk Sorga sebelum utangnya dilunasi dengan pahala yang ada. Rasanya nyesek mendengar dan membayangkannya.
Sepanjang perjalanan pulang dari Balikpapan ke Bontang pasca mengikuti seminar MTR kemarin, saya dan istri hanya menangis saja meratapi dosa dosa yang sudah diperbuat. Saya meminta maaf kepada istri saya, sampai ingin mencium kaki istri saya karena saya sudah memberi dosa kepadanya dan anak anak kami.
Setelah kami ikhlas untuk melepas ruko kami yang sangat kami sayangi tadi, saya lantas mendatangi pihak bank yang saat itu berada di kota Samarinda untuk negosiasi hanya mau membayar pokoknya saja. Tagihan terus saja datang, melalui telp, surat bahkan kunjungan.
Namun kami tetap pada pendirian kami, hanya akan membayar sebesar sisa pokok saja tanpa denda dan bunganya, karena kalau saya bayar maka saya sama saja dengan mengulang memberi Riba kepada mereka. Naudzubillahi min dzalik.
Saya sampaikan kepada pihak bank, kalau saya sampai kapanpun tidak akan berkenan membayar bunga dan dendanya, meskipun itu Bank Syariah, saya lebih takut kepada Allah SWT daripada kepada pihak Bank. Silahkan apabila pihak bank mau ambil asset saya, mau melelangnya, bahkan mau memperkarakan saya juga siap saja.
Akhirnya pihak bank dari kantor pusatnya di Jakarta, mengeluarkan keputusan kalau saya boleh membayar hanya sisa pokoknya saja. Terakhir sisa 2 Milyard dari total keseluruhan 6 Milyard utang Riba yang kami tanggung.
Alhamdulillah, setelah itu saya datangi calon pembeli yang tertarik dengan ruko saya. Saya sampaikan silahkan bayar hanya sebesar sisa hutang saya saja di bank.
Saya tunjukkan bukti angka sisanya yang harus dibayar, dan beliau senang karena mendapat harga murah. Iya memang bagi pembeli, ini adalah harga murah, pasti menguntungkan untuk nilai investasinya.
Berbagai cara sudah kami lakukan untuk menjual asset saya, menawarkan ke berbagai pihak, berdoa memohon pertolongan Allah SWT juga seluruh rukun Islam sudah kami lakukan, namun ternyata gak gampang melaksanakan niat kami, menjual asset guna pelunasan utang RIBA tersebut.
Ada satu hal yang menurut saya keliru. Tatkala kita memohon sesuatu kepada Allah SWT, sedangkan diri kita sendiri gak ikhlas melakukannya, maka itu gak akan pernah tercapai/terkabulkan.
Jadi dalam diri saya dan istri saat berdoa kepada Allah SWT, meminta melunasi utang, terlintas perasaan sayang akan kehilangan harta benda yang selama ini kami peroleh dengan segala usaha dan keringat kami.
Bahkan waktu saya untuk istri dan anak saya terbuang hanya untuk mengejar pencapaian harta tersebut, namun sekarang harus dilepas begitu saja. Gak ikhlas sebenarnya hati ini melepasnya. Namun jika tidak dilakukan, masalah demi masalah semakin banyak yang datang.
Nah, yang saya tangkap dari penyampaian pak Samsul saat di acara tempo hari adalah, bahwasanya yang benar benar orang kafir adalah orang muslim yang sudah paham hukum/aturan agama tapi tetap tidak mau melaksanakannya. Orang Muslim sudah paham kalau RIBA itu diharamkan oleh Allah SWT, tapi tetap saja dilakukan, berarti kita sama aja dengan orang kafir tadi, tidak patuh pada aturan yang ditetapkan Allah SWT.
Ada lagi yang saya pahami, kalau Anda meninggal kelak masih memiliki utang di dunia, maka di akhirat kelak tidak akan masuk Sorga sebelum utangnya dilunasi dengan pahala yang ada. Rasanya nyesek mendengar dan membayangkannya.
Sepanjang perjalanan pulang dari Balikpapan ke Bontang pasca mengikuti seminar MTR kemarin, saya dan istri hanya menangis saja meratapi dosa dosa yang sudah diperbuat. Saya meminta maaf kepada istri saya, sampai ingin mencium kaki istri saya karena saya sudah memberi dosa kepadanya dan anak anak kami.
Setelah kami ikhlas untuk melepas ruko kami yang sangat kami sayangi tadi, saya lantas mendatangi pihak bank yang saat itu berada di kota Samarinda untuk negosiasi hanya mau membayar pokoknya saja. Tagihan terus saja datang, melalui telp, surat bahkan kunjungan.
Namun kami tetap pada pendirian kami, hanya akan membayar sebesar sisa pokok saja tanpa denda dan bunganya, karena kalau saya bayar maka saya sama saja dengan mengulang memberi Riba kepada mereka. Naudzubillahi min dzalik.
Saya sampaikan kepada pihak bank, kalau saya sampai kapanpun tidak akan berkenan membayar bunga dan dendanya, meskipun itu Bank Syariah, saya lebih takut kepada Allah SWT daripada kepada pihak Bank. Silahkan apabila pihak bank mau ambil asset saya, mau melelangnya, bahkan mau memperkarakan saya juga siap saja.
Akhirnya pihak bank dari kantor pusatnya di Jakarta, mengeluarkan keputusan kalau saya boleh membayar hanya sisa pokoknya saja. Terakhir sisa 2 Milyard dari total keseluruhan 6 Milyard utang Riba yang kami tanggung.
Alhamdulillah, setelah itu saya datangi calon pembeli yang tertarik dengan ruko saya. Saya sampaikan silahkan bayar hanya sebesar sisa hutang saya saja di bank.
Saya tunjukkan bukti angka sisanya yang harus dibayar, dan beliau senang karena mendapat harga murah. Iya memang bagi pembeli, ini adalah harga murah, pasti menguntungkan untuk nilai investasinya.
Namun bagi kami, ini adalah awal kami memulai usaha usaha kami kembali tanpa utang tanpa Riba. Karena sudah kami coba tawarkan dengan harga wajar, tidak bisa juga terjual, bahkan masalah semakin banyak datang.
Yang saya pikirkan, kalau saya mati besok, saya masuk neraka, buat apa ruko itu gak dibawa mati.
Benar kata pak Samsul, tinggalkan itu yang melekat (Harta benda ribawi) karena hanya akan memberatkan jiwa saja.
Alhamdulillah setelah lepas dari jeratan riba ini, hidup saya dan istri semakin romantic, keluarga harmonis jarang cekcok. Makanpun sepiring berdua, selama ada makanan cukup saja untuk hidup.
Jadi intinya adalah, ayo semua sama sama kita berazzam bebas utang dan Riba, ikhlas melepaskan kemelekatan kepada harta dan dunia demi perintah Allah. Karena harta itu gak ada artinya di hadapan Allah SWT, hanya amal ibadah kita yang berarti kelak.
Insya Allah jika kita meninggalkan apa apa yang dilarang ALLAH SWT maka akan diganti dengan yang jauh lebih baik, lebih banyak, dan berkah. Aaamiiiin yaa rabbal alamin.
Ternyata punya harta banyak dan harta sedikit, rasanya lebih enak saat sekarang harta kami sedikit.
Makan jadi lebih nikmat, hidup jadi lebih bermakna.
Yang saya pikirkan, kalau saya mati besok, saya masuk neraka, buat apa ruko itu gak dibawa mati.
Benar kata pak Samsul, tinggalkan itu yang melekat (Harta benda ribawi) karena hanya akan memberatkan jiwa saja.
Alhamdulillah setelah lepas dari jeratan riba ini, hidup saya dan istri semakin romantic, keluarga harmonis jarang cekcok. Makanpun sepiring berdua, selama ada makanan cukup saja untuk hidup.
Jadi intinya adalah, ayo semua sama sama kita berazzam bebas utang dan Riba, ikhlas melepaskan kemelekatan kepada harta dan dunia demi perintah Allah. Karena harta itu gak ada artinya di hadapan Allah SWT, hanya amal ibadah kita yang berarti kelak.
Insya Allah jika kita meninggalkan apa apa yang dilarang ALLAH SWT maka akan diganti dengan yang jauh lebih baik, lebih banyak, dan berkah. Aaamiiiin yaa rabbal alamin.
Ternyata punya harta banyak dan harta sedikit, rasanya lebih enak saat sekarang harta kami sedikit.
Makan jadi lebih nikmat, hidup jadi lebih bermakna.
sumber : FB Posting Saptuari


Pengusaha dengan hutang riba itu sama saja membakar dirinya ke dalam api neraka. Kebahagiaannya hanyalah kebohongan. Mereka terlihat memiliki asset, tetapi asset mereka dipegang di tempat dimana dia berhutang, artinya itu bukanlah asset.
ReplyDeleteIntinya jangan sampai kita berhutang riba, karena kebahagiaannya hanya semu belaka.
http://honbookstore.com